Chapter I

Published 24 Mei 2015 by linafitriara

AKU FARAH

Kali ini aku memandangi langit luas sembari menunggu temanku –Dara- bangun dari tidur nyenyaknya. Ia tertidur tepat di sampingku, letih usai kerja paruh waktunya. Pengunjung di taman ini mulai menghilang satu persatu, pulang sebelum matahari tenggelam. Namun aku tak beranjak dari dudukku, mana mungkin aku meninggalkan temanku yang satu ini, teman yang tak akan kau temukan di penjuru manapun, teman yang bukan hanya ada saat suka cita, tapi juga saat suka gila.

“Far, mau maghrib ya?” gumamnya masih dengan mata tertutup. Sengaja tak kujawab agar ia kembali ke mimpinya, menghabiskan rasa lelahnya. Aku ikut menutup mataku, bukan untuk tidur, tapi untuk menghilangkan seseorang yang kerap kali datang di pikiranku. Bukan hanya di pikiran, bahkan ia berani datang di setiap mimpiku menjadi sosok yang ku andalkan dan dengan berbagai kejutan yang ia berikan, meskipun tenang sekali rasanya tapi tetap saja cukup menyakitkan karena ku tahu itu hanya mimpi.

Sekali lagi hanya mimpi. Mimpi tercipta dari sebuah pikiran di alam bawah sadar yang terdalam. Aku memang jarang memikirkannya, tapi ia kerap datang di mimpiku. Ada dua kemungkinan hal itu bisa terjadi, yang pertama mungkin saja dia memikirkanku, atau yang kedua aku tidak sadar di dalam hatiku yang terdalam aku memikirkannya, sudah jelas kemungkinan terbesar adalah kemungkinan yang kedua, kemungkinan yang pertama mungkin hanya harapanku belaka. Ya karena ku tahu memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkanku benar-benar membuang waktu, juga cukup menyakitkan, jadi aku terus bersikeras untuk mengenyahkannya dari pikiranku.

Aldi. Pemeran utama hampir di semua scene mimpiku, teman SMA ku, ya ku akui sebenarnya ia lebih dari sekedar teman. Tapi tiga tahun sudah aku menjadi anak kampus, aku tidak pernah tahu kabarnya. Bahkan tak ada berita tentangnya dari berbagai social media, ia seperti ditelan bumi, bukan, mungkin ia bukan ditelan bumi, ia diculik sebuah piring raksasa dan pergi ke planet antah berantah. Kuharap begitu, sehingga tak ada lagi perempuan lain yang mampu mengisi hatinya setelahku. Egois memang, tapi itu termasuk salah satu janjinya kepadaku untuk menjadikanku yang pertama juga yang terakhir, jadi kita impas bukan?

“Far, gua laper ayo makan dong,” ajaknya membuyarkan lamunanku.

“Makan baso itu aja yuk, gimana?” aku menunjuk tukang baso di ujung taman.

“Janganlah far, kita cari yang mahalan aja. Gua abis gajian, hari ini gua traktir lu sampe buncit.”

-0-0-0-

Tidak ada lampu yang menerangi jalan yang sedang kami lewati malam ini. Dingin, gelap, sunyi, lengkap sudah setting horror yang kami rasakan. Dengan perut penuh ini, mana mungkin kami bisa berlari saat hantu buas datang tiba-tiba. Jadi kami pura-pura tidak takut untuk terus berjalan, meskipun keringat dingin sudah bercucuran. Angin berhembus pelan melewati jemari kami, suatu suara terdengar bersahutan kesana kemari.

“Aaaa!” teriak kami bersamaan saat mendengar suara yang begitu nyaring. Mata Dara mendelik ke arahku saat ia tahu kalau suara yang mengagetkannya ternyata adalah dering Hpku.

“Biasa, sms untuk seorang jomblo ra, siapa lagi kalau bukan operator?” ucapku malas tanpa mengeceknya. Kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kaki, selain menghemat ongkos juga bisa membakar lemak yang menumpuk.

“Cek dulu, siapa tahu kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang,” Ledeknya lengkap dengan tawa ejekkan yang memojokkanku.

“Apa sih lu ra, liat nih, ini nomor ga dikenal tau mana dia minta ketemuan lagi, kenal juga enggak gua, ewh.”

“Sini gua baca, Jum’at besok jam 2 siang di rumah saya Graha Hijau I blok c/16. lu ada janji kali sama orang besok?” aku mengingat lagi agendaku besok, sepertinya tidak ada janji untuk bertemu siapapun besok kecuali dengan Dara, ia minta dijemput sepulang dari kampus katanya.

“Enggak ada, udah lupain aja, orang iseng kali ah.” Aku memasukkan Hpku ke dalam tasku, Dara terlihat berpikir keras.

“Udah lupain aja, nggak usah dipikirin ra, nggak penting.” Aku menyenggol tangannya.

“Apa sih lu far, sok tahu deh. Orang gua lagi mikir ini kita lagi dimana ya, kok nggak nyampe-nyampe daritadi.” Ucapnya bingung.

“Yeila elu mah ra, mau kemana aja gua nggak tau, kan elu yang ngajakin gua mah tinggal ngikut.”

“Oiya ya, mau ke kosan gua kan, eh itu disana udah keliatan kok, sorry sorry, ga fokus. Ayolah buru, udah capek  jalan nih.”

-0-0-0-

Mukaku memerah diserang rasa malu. Kutepuk jidat setelah kusadari betapa bodohnya aku. Keluar dari ruang dosen, aku langsung pergi ke parkiran mencari motorku untuk menjemput Dara di kampusnya. Siang ini begitu terik, untung saja jalanan cukup renggang sehingga aku bisa menjemputnya tepat waktu, tak sabar ingin menceritakan hal konyol yang terjadi tadi.

“Farah!” Aku menghentikan motorku, mencari asal suara yang memanggilku. Kulirik spion, ternyata Dara tepat di belakangku.

“Gua manggil lu dari tadi tau, bengong mulu siih, mikirin apa emangnya lu?”

“Ra, lu masih inget ga sms yang minta ketemuan hari Jum’at? Terus ga gua tanggepin.”

“Iya masih, kenapa emang?”

“Ternyata itu dosen gua, ada bimbingan  di rumahnya buat perbaikan nilai. Dan gara-gara gua kira ini cuma orang iseng, kelas gua enggak jadi perbaikan nilai, lagian bapaknya pake SMS-nya ke gua doang, kan begini jadinya” aku tertawa lepas.

“Ihh bloon elu mah far, emang ga lu save nomornya? Ketawa lagi lu, bukannya sedih ga dapet nilai tambahan.”

“Engga gua save nomor dosennya, sedih sih, tapi rela bagi-bagi?”

“Udah ah gila, ayolah pulang, tapi ke rumah elu aja ya far. There’s something I’m gonna tell you.”

-0-0-0-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: