Farah

All posts in the Farah category

Chapter III

Published 29 Juni 2015 by linafitriara

Hari ini aku kebanjiran task, mulai dari tugas rumah tangga sampai dari dosen tercinta. Pembantu di rumahku baru saja mengundurkan diri karena ada seseorang di kampung yang akan melamarnya, aku tidak menyesalkan kepergiannya, hanya saja mengapa ia begitu banyak meninggalkan PR yang sudah pasti akan dibebankan kepadaku oleh Kanjeng Mamih. Di tambah lagi, meskipun dosen berhalangan hadir, tapi tugas terus mengalir bak air sungai, bahkan lebih deras dari biasanya, aku menatap cermin menerbitkan senyuman semanis-manisnya, meyakinkan diri sendiri “all is well.”

Matahari mulai tergelincir perlahan, beriringan dengan tugasku yang semakin menipis. Kini yang tersisa hanyalah sebuah makalah, santapanku sehari-hari sejak aku duduk di bangku kuliah. Tepat di saat aku menyalakan laptopku, teringat satu tugas yang belum terselesaikan, aku lupa menjemput Dara. Aku belum menjemput Dara si gadis magang berdarah sunda, sekejap langsung ku raih HP dan ternyata sudah ada balasan notif darinya, “Iya Far, gua tau lu lagi sibuk jadi pembantu dadakan, gua udah di kostan kok,” pesan singkat dari Dara sekitar 5 jam lalu.

“Haha sial,” ucapku kesal, memang Dara seorang cenayang yang benar-benar handal.

Aku kembali memusatkan pikiranku kepada makalah ini, sebenarnya cukup dengan 8 halaman mengarang ria dan mencantumkan beberapa referensi sudah dinilai bagus oleh dosenku, namun hingga sekarang satu katapun tidak tergambar dalam pikiranku.

Blank. Kosong. Hampa. Entah ini efek lelah, efek sore ataukah efek umur -_- ku harap yang terakhir tidak benar-benar terjadi. Sesaat ku menatap jam, memahami filosofi waktu. Ia terus berputar menciptakan memori demi memori. Yang telah terlewat dinamai kenangan, dan yang belum terjadi disebut masa depan. Ketika ku mulai asik tenggelam dalam memaknai waktu, suara bising tiba-tiba memenuhi kepalaku, bising-bising tetangga.

Aku melongo keluar jendela kamarku, dua orang laki-laki tengah berkelahi dan disaksikan banyak wanita. Belum ada yang terluka sejauh ini, namun yang aneh tidak ada satupun dari penonton yang melerai keduanya. Detik pertama aku duduk kembali, detik kedua mencoba mengacuhkan mereka, detik ketiga terasa ada yang mengganjal saat aku berdiam diri melihat situasi tersebut, dan akhirnya aku kalah. Aku segera turun menuju halaman rumahku.

Mereka masih bertempur ria, salah satu dari keduanya mulai terluka, bahkan tampak darah mengalir dari pelipisnya. Aku tidak mau menghabiskan energiku untuk meneriaki mereka, aku mengambil selang taman dan akhirnya menyemprot mereka layaknya aku melerai kucing yang sedang berkelahi. Berpura-pura menyiram bunga, “ups.”

Kaum hawa mulai teriak panik dan meninggalkan duo boxing ini, entah yang mereka lakukan boxing, kungfu, silat atau apalah, yang jelas mereka telah membuat keributan tepat di halaman rumahku. Belum sempat aku mengeluarkan sepatah dua patah kata, salah satu dari keduanya yang tidak terluka menghampiriku dan meminta maaf atas keributan yang telah terjadi kemudian berlari entah kemana setelah menerima anggukanku, masih tersisa satu bocah lagi. Entah ia bocah atau sudah dewasa, aku sebut saja bocah karena tindakan kekanak-kanakannya yang berani berkelahi didepan umum.

“Lu ngapain masih disini?” Tanyaku dari jauh.

“Ada betadine?” ucapnya lantang

“Ada,”

“Alkohol?”

“Ada juga,”

“Kalo hansaplast?”

“Ada,” aku langsung menariknya dan masuk ke dalam rumahku. Ia duduk di sofa tamu sementara aku mencari kotak p3k. Dari cara duduknya, bahkan ia lebih terlihat sebagai tuan rumah daripada aku sendiri.

“Betadine, alkohol sama hansaplast ada di kotak ini, lu pake sendiri aja, udah gede kan.” ucapku ketus sambil menyodorkan kotak putih tersebut. Ia tersenyum ketus, “makasih udah peka ya ka,”

“Peka apaan sih lu, orang lu tanyain gua udah kayak nanya mba mba di warung tau ga, mana itu jidat lu berdarah yakali gua biarin, udah buru obatinnya gua mau ngerjain tugas nih.” aku menyenderkan tubuhku di sofa empuk ini, melepaskan penatku sebentar.

“Galak banget sih lu ka,” ucapnya sambil meringis saat ia mengobati dirinya sendiri.

“Udah? Kalo udah bangunin gua ya adik manis,” aku menghiraukannya dan mulai menutup mataku perlahan.

“Ka, lu tau ga tadi gua kenapa berantem sama dia?”

“Ka?” ia memanggilku lagi, aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Dia itu anak komplek sebelah, dari udah beberapa hari ini dia selalu berdiri di depan rumah kaka selama beberapa menit, emang lu ga tau ka?” aku menggangguk lagi.

“Nah terus tadi itu, dia juga berdiri lagi selama beberapa menit sambil bawa pilok, dari kamar gua keliatan kan, yaudah gua langsung lari, dan pas gua hampirin dia dia malah nonjok gua kan, entah dia kaget apa takut sama gua, yaudah gua ladenin.”

“Dan mungkin berhubung ketampanan gua ka, cewek-cewek malah pada nontonin, ga ada yang berani lerai kita, untung lu keluar rumah ka, walaupun baju gua basah seenggaknya gua ga lebih babak belur lagi dari ini.”

“Oke cukup gua ngantuk,” aku bangun dari ‘memejamkan mata’ singkatku. Mendekati kepalanya untuk memastikan lukanya sudah diobati, sebuah plester ku lekatkan tepat di atas lukanya. Entah kenapa, kepalanya terasa begitu dingin.

“Lu vampir ya, dingin banget kepala lu.” tanyaku sambil membereskan kotak p3k, dan dia malah tertawa.

“Apaan sih ka, lu kali yang lagi sakit, panas banget tangan lu.”

Aku meninggalkannya dan mengambil sebatang cokelat, dan membuka pintu untuknya.

“Baik-baik ya adik kecil jangan berantem lagi nanti dimarahin pak polisi,” aku memberikan sebatang cokelat tersebut.

“Berasa anak sekolahan dikasih beginian ka,”

“Lah emang masih anak sekolahan kan lu?”

“Gua udah kuliah kali.”

“Kalo gitu ngapain panggil gua kaka,” ucapku kesal

“Nothing, biar rasanya lebih mudaan gua gitu ka,”

“Bodo amat,” aku memutarkan bola mataku dan menutup pintu sebelum ia sempat berkata lagi.

“Ka nama gua Gilang ya ka, Gilang tetangga depan rumah lu ka,” teriaknya dari luar rumahku.

“Ya ya ya.”

Iklan

Chapter I

Published 24 Mei 2015 by linafitriara

AKU FARAH

Kali ini aku memandangi langit luas sembari menunggu temanku –Dara- bangun dari tidur nyenyaknya. Ia tertidur tepat di sampingku, letih usai kerja paruh waktunya. Pengunjung di taman ini mulai menghilang satu persatu, pulang sebelum matahari tenggelam. Namun aku tak beranjak dari dudukku, mana mungkin aku meninggalkan temanku yang satu ini, teman yang tak akan kau temukan di penjuru manapun, teman yang bukan hanya ada saat suka cita, tapi juga saat suka gila.

“Far, mau maghrib ya?” gumamnya masih dengan mata tertutup. Sengaja tak kujawab agar ia kembali ke mimpinya, menghabiskan rasa lelahnya. Aku ikut menutup mataku, bukan untuk tidur, tapi untuk menghilangkan seseorang yang kerap kali datang di pikiranku. Bukan hanya di pikiran, bahkan ia berani datang di setiap mimpiku menjadi sosok yang ku andalkan dan dengan berbagai kejutan yang ia berikan, meskipun tenang sekali rasanya tapi tetap saja cukup menyakitkan karena ku tahu itu hanya mimpi.

Sekali lagi hanya mimpi. Mimpi tercipta dari sebuah pikiran di alam bawah sadar yang terdalam. Aku memang jarang memikirkannya, tapi ia kerap datang di mimpiku. Ada dua kemungkinan hal itu bisa terjadi, yang pertama mungkin saja dia memikirkanku, atau yang kedua aku tidak sadar di dalam hatiku yang terdalam aku memikirkannya, sudah jelas kemungkinan terbesar adalah kemungkinan yang kedua, kemungkinan yang pertama mungkin hanya harapanku belaka. Ya karena ku tahu memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkanku benar-benar membuang waktu, juga cukup menyakitkan, jadi aku terus bersikeras untuk mengenyahkannya dari pikiranku.

Aldi. Pemeran utama hampir di semua scene mimpiku, teman SMA ku, ya ku akui sebenarnya ia lebih dari sekedar teman. Tapi tiga tahun sudah aku menjadi anak kampus, aku tidak pernah tahu kabarnya. Bahkan tak ada berita tentangnya dari berbagai social media, ia seperti ditelan bumi, bukan, mungkin ia bukan ditelan bumi, ia diculik sebuah piring raksasa dan pergi ke planet antah berantah. Kuharap begitu, sehingga tak ada lagi perempuan lain yang mampu mengisi hatinya setelahku. Egois memang, tapi itu termasuk salah satu janjinya kepadaku untuk menjadikanku yang pertama juga yang terakhir, jadi kita impas bukan?

“Far, gua laper ayo makan dong,” ajaknya membuyarkan lamunanku.

“Makan baso itu aja yuk, gimana?” aku menunjuk tukang baso di ujung taman.

“Janganlah far, kita cari yang mahalan aja. Gua abis gajian, hari ini gua traktir lu sampe buncit.”

-0-0-0-

Tidak ada lampu yang menerangi jalan yang sedang kami lewati malam ini. Dingin, gelap, sunyi, lengkap sudah setting horror yang kami rasakan. Dengan perut penuh ini, mana mungkin kami bisa berlari saat hantu buas datang tiba-tiba. Jadi kami pura-pura tidak takut untuk terus berjalan, meskipun keringat dingin sudah bercucuran. Angin berhembus pelan melewati jemari kami, suatu suara terdengar bersahutan kesana kemari.

“Aaaa!” teriak kami bersamaan saat mendengar suara yang begitu nyaring. Mata Dara mendelik ke arahku saat ia tahu kalau suara yang mengagetkannya ternyata adalah dering Hpku.

“Biasa, sms untuk seorang jomblo ra, siapa lagi kalau bukan operator?” ucapku malas tanpa mengeceknya. Kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan kaki, selain menghemat ongkos juga bisa membakar lemak yang menumpuk.

“Cek dulu, siapa tahu kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang,” Ledeknya lengkap dengan tawa ejekkan yang memojokkanku.

“Apa sih lu ra, liat nih, ini nomor ga dikenal tau mana dia minta ketemuan lagi, kenal juga enggak gua, ewh.”

“Sini gua baca, Jum’at besok jam 2 siang di rumah saya Graha Hijau I blok c/16. lu ada janji kali sama orang besok?” aku mengingat lagi agendaku besok, sepertinya tidak ada janji untuk bertemu siapapun besok kecuali dengan Dara, ia minta dijemput sepulang dari kampus katanya.

“Enggak ada, udah lupain aja, orang iseng kali ah.” Aku memasukkan Hpku ke dalam tasku, Dara terlihat berpikir keras.

“Udah lupain aja, nggak usah dipikirin ra, nggak penting.” Aku menyenggol tangannya.

“Apa sih lu far, sok tahu deh. Orang gua lagi mikir ini kita lagi dimana ya, kok nggak nyampe-nyampe daritadi.” Ucapnya bingung.

“Yeila elu mah ra, mau kemana aja gua nggak tau, kan elu yang ngajakin gua mah tinggal ngikut.”

“Oiya ya, mau ke kosan gua kan, eh itu disana udah keliatan kok, sorry sorry, ga fokus. Ayolah buru, udah capek  jalan nih.”

-0-0-0-

Mukaku memerah diserang rasa malu. Kutepuk jidat setelah kusadari betapa bodohnya aku. Keluar dari ruang dosen, aku langsung pergi ke parkiran mencari motorku untuk menjemput Dara di kampusnya. Siang ini begitu terik, untung saja jalanan cukup renggang sehingga aku bisa menjemputnya tepat waktu, tak sabar ingin menceritakan hal konyol yang terjadi tadi.

“Farah!” Aku menghentikan motorku, mencari asal suara yang memanggilku. Kulirik spion, ternyata Dara tepat di belakangku.

“Gua manggil lu dari tadi tau, bengong mulu siih, mikirin apa emangnya lu?”

“Ra, lu masih inget ga sms yang minta ketemuan hari Jum’at? Terus ga gua tanggepin.”

“Iya masih, kenapa emang?”

“Ternyata itu dosen gua, ada bimbingan  di rumahnya buat perbaikan nilai. Dan gara-gara gua kira ini cuma orang iseng, kelas gua enggak jadi perbaikan nilai, lagian bapaknya pake SMS-nya ke gua doang, kan begini jadinya” aku tertawa lepas.

“Ihh bloon elu mah far, emang ga lu save nomornya? Ketawa lagi lu, bukannya sedih ga dapet nilai tambahan.”

“Engga gua save nomor dosennya, sedih sih, tapi rela bagi-bagi?”

“Udah ah gila, ayolah pulang, tapi ke rumah elu aja ya far. There’s something I’m gonna tell you.”

-0-0-0-